Wednesday, April 24, 2013

John R. Mott, "Bapak Oikumene Dunia"


Jika kita berbicara mengenai keesaan atau kesatuan gereja, pasti akan segera terlintas dibenak kita tentang wadah-wadah seperti PGI, PGPI dan PGLII, namun sebenarnya ada tokoh yang menjadi pioner dari gerakan ouikumene yaitu John R. Mott. Ia diilahirkan pada tanggal 25 Mei 1865 di Postville, Iowa, USA. Ayah Mott bernama John Stitt Mott dan ibunya bernama Elmira Dogde. Ayahnya bekerja sebagai pedagang kayu dan dalam pemilihan Walikota, ayahnya terpilih sebagai walikota pertama di Postville, Iowa. Anak ketiga dari empat bersaudara ini pada umur 13 tahun mengalami pertobatan dan bergabung dalam Gereja Metodis.

Menentukan pilihan

Pada tahun 1881 John Mott belajar di Upper Iowa University selama 4 tahun. Sekolah ini adalah milik Gereja Metodis sehingga proses belajar-mengajarnya diwarnai oleh kekristenan. Dia adalah seorang mahasiswa yang sangat antusias mempelajari sejarah dan sastra. Ketika John Mott menempuh pendidikan di sekolah tersebut, ia bergumul tentang cita-citanya dengan panggilan Allah, ia diperhadapkan dengan pilihan antara hukum dan meneruskan bisnis kayu ayahnya atu melayani Tuhan, tetapi ia berubah pikiran setelah mendengar pengajaran dari J. Kynaston Studd pada tanggal 14 Januari 1886. Tiga kalimat yang disampaikan oleh Studd: Ia mendorong untuk melayani Tuhan seumur hidup dan memperkenalkan Kristus kepada para siswa, bukan hanya mencari hal-hal yang besar untuk dirinya sendiri, tetapi juga mencari mereka yang terhilang, mencari dahulu kerajaan Allah.
Setelah itu Mott melanjutkan studinya ke Universitas Cornell pada tahun 1885. Di sinilah Mott memulai kegiatan Pekabaran Injil. Sebenarnya Mott ke Cornell agar ia dapat bekerja pada pekerjaan duniawi atau meneruskan usaha ayahnya, tetapi ia lebih memilih untuk melayani Tuhan. Di universitas ini Mott terpilih sebagai wakil ketua "Asosiasi Pemuda Kristen" (Young Men Christian Association/YMCA) cabang Cornell. Dia giat memberitakan Injil di kalangan mahasiswa dan memimpin kebaktian di penjara-penjara. Dan tepat Pada tahun 1888 ia menyelesaikan studinya di Cornell, setelah tamat dari Cornell, ia menjadi sekretaris "Asosiasi Pemuda Kristen" (YMCA) Amerika Serikat dan Kanada, Ia mengunjungi seluruh universitas dan perguruan tinggi di kedua negara tersebut.

Api penginjilan

John Releigh Mott merupakan seorang tokoh besar dalam kegiatan penginjilan di kalangan mahasiswa di berbagai universitas di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20. Pada musim panas tahun 1886, Mott mewakili Universitas Cornell YMCA pada konferensi mahasiswa Kristen interdenominasi internasional, dimana D.L. Moody menjadi ketua konferensinya. Konferensi tersebut dihadiri oleh 251 mahasiswa dari 80-90 perguruan tinggi dan universitas. John Mott beserta seratus orang berjanji untuk bekerja dalam misi asing. Dari sini, dua tahun kemudian, muncul Gerakan Mahasiswa Relawan untuk Misi Asing. Api dan semangat penginjilan membakar jiwa Mott sejak masa mudanya, terbukti ia sangat aktif dalam kegiatan dan pembentukan lembaga penginjilan internasional. Dia menjabat sebagai ketua Gerakan Relawan Mahasiswa untuk Misi Asing (1915-1928) dan dari International Missionary Council of YMCA (1921-1942). Mott juga merupakan presiden dari Aliansi Dunia YMCA 1926-1937, pengalaman dan dedikasinya untuk penginjilan, membawa Mott menjadi Ketua Komisi Persiapan untuk Konferensi Pekabaran Injil se Dunia di Edinburgh tahun 1910. Sebagi pemikir utama dalam konferensi ia banyak memimpin persidangan. Setelah itu konferensi itu bubar, maka dibentuklah Komisi Penerus (Continuation Committee) yang diketuai oleh John Mott sendiri hingga tahun 1920. Sehingga sosok Mott tidak dapat dilepaskan dari Dewan Pekabaran Injil International (International Missionary Council) yang dibentuk pada tahun 1920. Mott menjadi ketua Dewan ini hingga tahun 1942. Dalam kedudukannya sebagai Ketua Dewan Pekabaran Injil ini, ia mendorong agar di tiap negara dibentuk Dewan Pekabaran Injil Nasional.

Tokoh Ouikumene Dunia

Selain dikenal sebagai tokoh penginjil dunia, Ia juga dikenal sebagai seorang tokoh pergerakan oikumene di dunia yang tiada tandingnya. Mott begitu paham arti dan dampak dari kesatuan tubuh Kristus, ia terus belajar untuk mengumpulkan mahasiswa dari berbagai denominasi. Sejak semula ia telah berniat untuk mengusahakan kerjasama antara semua gereja. Ia berkata: "Kita harus awas! Jangan kita menyangka bahwa gereja kita sendiri adalah satu- satunya gereja. Kita harus selalu menghormati semua cabang dari gereja yang Kudus dan am."
Usaha dari John Mott untuk mengupayakan kesatuan gereja dirintisnya sejak awal, Pada bulan Agustus 1895 di Wettern, ia mendirikan World Student Christian Federation (WSCF). Cita-cita dari didirikannya organisasi ini adalah mengusahakan terciptanya kesetaraan antara sesama, dengan menghilangkan berbagai bentuk diskriminasi yang ada, juga ia memiliki visi dan harapan akan persatuan sebagai tubuh Kristus. Cita-cita WSCF ini tercermin dalam mottonya yang berbunyi “UT OMNES UNUM SINT” atau “Itu semua menjadi satu”. Motto WSCF ini juga menggambarkan sifat dari organisasi ini yaitu oikumenis. Dan sejak tahun 1911, Federasi Mahasiswa Kristen sedunia ini membuka pintu bagi golongan-golongan lain yang gigh memperjuangkan paham oikumenis di kalangan umat Kristen.
John R. Mott dan rekan-rekannya sadar bahwa karya misi yang efektif membutuhkan kerja sama dan kesatuan gereja. Gerakan Relawan Mahasiswa yang dipimpin Mott menghasilkan aktivitas misi seperti pusaran angin. Misi tersebut beroperasi melintasi garis-garis denominasi. Keseribu delegasi dimana John R. Mott sebagai penggerak utamanya,  mengontrol dua organisasi besar yaitu:  Faith and Order Movement (Gerakan Iman dan Tata Ibadah) untuk isu-isu doktrinal dan Life and Work Movement (Gerakan Kehidupan dan Karya) bagi misi dan pelayanan. Pada tahun 1937, dengan pertemuan secara terpisah di Oxford dan Edinburgh, kedua organisasi ini memilih untuk bergabung. Para pemimpin gereja bertemu di Utrecht, pada tahun 1938, untuk menyusun sebuah konstitusi. Namun, Perang Dunia mencegah langkah maju gereja-gereja dengan rencananya tersebut.

Setelah perang usai, ada rasa kesatuan yang lebih besar ketika gereja-gereja di seluruh dunia dan berupaya memulihkan keadaan. Pertemuan di Amsterdam pada tahun 1948 akhirnya menyatukan kedua badan terdahulu itu menjadi World Council of Churches (WCC) atau Dewan Gereja-gereja se-Dunia. Terdapat 135 badan-badan gereja yang terwakili dari empat puluh negara. Setelah seumur hidup mengupayakan oikumene, John R. Mott, dalam usianya yang ke delapan puluh, terpilih sebagai ketua kehormatan.  Hal ini adalah patut dilakukan mengingat akan jasa dan peranannya dalam pergerakan oikumene dan pekabaran Injil di dunia. Jabatan ini dipegangnya hingga ia meninggal dunia pada 31 Januari 1955. WCC mengajak gereja-gereja bekerja sama, belajar bersama, bersekutu bersama, berbakti bersama, dan bertemu bersama dalam konferensi khusus dari waktu ke waktu. WCC menolak rencana apapun untuk membentuk "gereja dunia" baru. WCC tidak akan memiliki kekuasaan yang terpusat. WCC hanya bertujuan memberi gereja-gereja di seluruh dunia kesempatan dan sumber untuk bekerja sama satu dengan yang lain dan menjawab doa Yesus dalam Yohanes 17:21.

Dalam sejarah pergerakan oikumene di Indonesia nama Mott perlu dicatat pula. John Mott mengunjungi Indonesia pada tahun 1926. Di sini ia memberikan rangsangan yang sangat berarti bagi kegiatan Gerakan Mahasiswa Kristen di Hindia Belanda. Organisasi-organisasi seperti YMCA, kemudian GMKI dan DGI dengan Komisi Pekabaran Injilnya berakar dari pekerjaan John R. Mott.

Dr. John Mott menikah dengan Leila Ada white pada tahun 1891, mereka memiliki empat anak, dua putra dan dua putri. Dia tutup usia di rumahnya di Orlando, Florida, pada usia delapan puluh sembilan tahun.

Selama hidupnya John R. Mott telah menulis enam belas buku di bidangnya; menyeberangi Atlantik lebih dari seratus kali dan Pasifik sebanyak empat belas kali; Ia telah menyampaikan ribuan pidato. Ia dianugerahi tujuh gelar kehormatan, pemerintah Amerika Serikat juga menghadiahkan kepadanya medali kehormatan. Pada tahun 1948 Mott adalah salah seorang pemenang Hadiah Nobel perdamaian. Prestasi yang luar biasa tersebut tidak sebanding dengan perjuangannya sebagai tokoh Ouikumene dunia, yang berjuang untuk mengupayakan kesatuan Tubuh Kristus agar tetap unity.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment