Tuesday, May 28, 2013

Cara Mengatasi Kekuatiran

Setiap manusia yang hidup, baik itu anak-anak, orang tua pasti memiliki masalah yang berbeda-beda. Tidak dapat dipungkiri bahwa seringkali masalah atau tantangan hidup tersebut mengakibatkan kekuatiran, ketakutan dan kecemasan. Memang kita tidak bisa mengelak dari “momok’ yang bernama masalah, tetapi ternyata ada solusi yang Yesus tawarkan agar kita tidak lagi kuatir, takut dan cemas dalam mengahdapi setiap masalah.


Dalam Injil Matius 6:25-34, dibahas mengenai kekuatiran, dalam bagian tersebut yang merupakan khotbah Yesus sendiri pada waktu itu, Yesus menekankan untuk tidak kuatir tentang apapun juga. Sebanyak empat kali Yesus berkata, “Janganlah kamu kuatir....” (ayat 25 dua kali, ayat 31, ayat 34), hal ini menunjukkan bahwa Yesus begitu menaruh perhatian terhadap hal kekuatiran. Yesus tahu persis bahwa kecenderungan manusia akan gampang untuk menjadi kuatir bahkan takut dan cemas. Kuatir adalah sikap gelisah, cemas dan takut terhadap susuatu yang belum terjadi secara pasti. Jadi orang yang kuatir sama halnya orang yang mencemaskan sesuatu yang belum pasti akan terjadi, makanya kekutairan diibaratkan membuka payung sebelum ada hujan. Belum pasti apa yang kita kuatirkan atau cemaskan itu yang akan terjadi, Seneca berkata: “kita lebih banyak menderita oleh khayalan daripada oleh kenyataan.”

Kata “janganlah” artinya sebuah larangan keras, artinya Yesus melarang dengan keras untuk kita kuatir, setiap larangan pasti ada alasannya. Sebagai contoh, kenapa ada larangan mengaktifkan HP dan barang-barang elektronik dalam pesawat terbang? karena dapat mengganggu sistim navigasi pesawat yang berkibat kecelakaan jika dilanggar, kenapa ada larangan merokok di area SPBU? karena dapat menyebabkan kebakaran dan bahkan meledak. Demikian juga kenapa Yesus melarang kuatir? inilah yang menjadi alasannya:
1.    Adanya jaminan pemeliharaan Bapa (ayat 32, Rm 8:28). Kita harus menyadari bahwa Tuhan telah mengadopsi kita menjadi anak-anak-Nya, dan Dia menjadi Bapa kita. Sebagai anak, tidak mungkin Bapa membeiarkan kita untuk menanggung atau mengahadapi masalah seorang diri. Dan sebagai Bapa yang baik, Ia pasti akan memberikan segala hala yang terbaik (Mat 7:11). Dia berjanji akan memelihara dan menyertai kita selamanya, jadi apa yang perlu kita takutkan dan kuatirkan lagi?
2.    Kekuatiran adalah musuh iman. Ketika Yesus menyuruh para murid untuk mendahului-Nya ke seberang dengan menggunkan perahu, sementara Yesus sendirian untuk berdoa di sebuah bukit. Para murid mengahadapi masalah karena gelombang akibat angin sakal, maka saat itulah Yesus datang berjalan di atas air hendak menghampiri mereka, tetapi murid-murid mengira hantu. Kekuatiran dan kecemasan membuat kita tidak lagi bisa melihat kemahakuasaan Allah atau mengkerdilkan kuasa Tuhan. Ketika Petrus melihat Yesus dan memohon untuk menghampiri Yesus dengan berjalan di atas air, dan akhirnya karena fokus Petrus hanya pada Yesus saat itu dan imannya mulai bangkit, maka iapun bisa berjalan di atas air, tetapi setelah beberapa langkah, dia mulai dihinggapi kekuatiran dan ketakutan, akibatnya imannya lemah dan hampir saja tenggelam (Mat 14:22-32). Kenapa Yesus melarang kuatir? karena kekuatiran hanya akan melemahkan iman kita.